Back to You

Saya membuka tulisan ini dengan sedikit curhat dan update dari beberapa pengalaman saya menjadi warga baru di salah satu daerah spesial di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Terhitung awal bulan Desember 2012 secara de-facto saya meninggalkan Surabaya, kota yang telah mengajarkan saya banyak hal, tentang hidup...
Saya jadi berpikir bahwa takdir itu diawali dari sebuah 'kebetulan' dan terjadi saat injury time...dimana saat kita tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir atau mempertimbangkan sebuah keputusan dalam hidup kita. Take it or leave it...

Kepidahan saya pun ke Yogya juga, umm...sebenarnya tanpa pertimbangan yang masak. Karena saat itu saya tidak punya banyak waktu untuk memustuskan. 
Semua diawali dengan keisengan saya apply on-line di UGM, karena saat itu sedang membutuhkan tenaga full-timer untuk mengerjakan sebuah project riset, program kemitraan UGM dengan New Zealand Embassy. Tanpa disangka-sangka, saya lolos beberapa kali tes, baik yang dilakukan oleh pihak UGM maupun oleh New Zealand Embassy. Perkiraan saya meleset, awalnya saya berasumsi bahwa project tersebut paling tidak awal tahun depan baru akan rilis, ternyata, awal Desember saya sudah probation dan sudah bekerja full. Hehehe
Culture shock pastinya. Yogya totally different from Surabaya. Saya terbiasa dengan ritme kerja di Surabaya yang cepat, tegas, dan jarang basa basi. Kini di Yogya ritme kerjanya lumanya slow dan behaved :p. Bulan pertama di Yogya, saya masih belum benar-benar krasan. Hal ini terlebih karena saya sangat kesepian, dan saya merasa tidak mudah mendapatkan teman untuk berbagi di rumah kos saya yang rate perbulannya sangat fantastis. :(
Menjelang bulan kedua, saya memutuskan untuk mencari kos baru, dan alhamdulillah kosan saya yang baru lebih layak dan manusiawi. Berawal dari sanalah beberapa hari kedepannya saya berangsur-angsur mulai betah dan krasan. Memiliki beberapa teman yang loyal, sudah lebih dari cukup. Saya kini tidak lagi berambisi memiliki teman yang banyak tetapi dengan kualitas yang biasa-biasa saja. Yang saya butuhkan lebih dari sekedar mutual relationship yang long-term, memberikan dampak jangka panjang kedepannya. Itu yang akan mulai saya bangun dari sekarang. Mari berbaik-baik dengan alam Yogyakarta :)
Saya tidak akan menulis panjang tentang Yogyakarta, setiap orang memiliki impresi hampir sama. Yogya kota yang liveable, 'friendly', dan permissive. Itu pastinya. Friendly, saya berikan apostrop...karena tidak di semua aspek bisa 'friendly' salah satunya adalah kondisi traffict (lalu lintas) yang (Oh My God) mungkin lebih parah dari Surabaya. 
"Mengapa begitu susahnya memberikan kesempatan bagi pejalan kaki yang menyeberang, dan mereka bisa seenaknya memotong jalanan padat...atau berkendara dengan zigzag???"
Berkendara di Yogya risikonya hampir sepadan dengan berkendara di Jalanan A. Yani Surabaya yang sedang macet. Itu poin dari saya..
Makanan di Yogya harganya tidak jauh beda dengan Surabaya, ada beberapa tempat yang memang mematok harga yang relatif murah, yang mahal juga banyak. Cuma memang, harus diakui makanan di Yogya jenisnya lebih variatif dan kreatif. Klo dulu saya pas di Surabaya, budget untuk transportasi dan printilan hidup alokasinya lebih besar, kini di Yogya pengeluaran untuk makan jauh lebih gila...semangat untuk wiskul jadi membabi-buta :D
Here I am..




0 komentar: